PERPULUHAN
PERATURAN WAJIB atau KERELAAN KASIH?
Pendahuluan
![]() |
foto capitalcitycoc.org |
Perpuluhan atau persembahan persepuluhan telah
menjadi topik pembicaran yang tiada habisnya di kalangan Kristiani. Ada gereja
yang mengajarkan dan memotivasi jemaat untuk memberi persembahan persepuluhan/perpuluhan, namun ada juga
yang tidak. Biasanya perdebatannya seputar “keabsahan” perintah Allah untuk
memberi perpuluhan dalam konteks gereja masa kini.
Kalangan yang
menolak perpuluhan mengajukan argumen bahwa perpuluhan adalah konsep Perjanjian
Lama yang tidak berlaku untuk gereja di zaman Perjanjian Baru. Oleh karenanya
mereka berpandangan bahwa gereja tidak boleh mewajibkan jemaat untuk memberi
persembahan persepuluhan.
Sebaliknya pada
gereja yang mengadakan persembahan perpuluhan, mereka meyakini bahwa perintah
memberikan perpuluhan adalah perintah Allah yang harus dilakukan oleh umat-Nya.
sebab dibalik perintah itu, yaitu memberikan perpuluhan, ada janji berkat-Nya
kepada setiap orang yang memberikan persembahan persepuluhan.
Analisa Perjanjian Lama
Perpuluhan ditemukan
dalam Perjanjian Lama. Pertama kali perpuluhan ditemukan pada kisah Abraham dan
imam Melkisedek. Abraham memberikan sepersepuluh dari hasil pampasan perangnya
kepada Imam Melkisedek yang kemudian memberkati Abraham (Kejadian 14:17-20;
Ibrani 7:6).
Abraham adalah
nenek moyang bangsa Israel. Ia menanggapi panggilan YHWH untuk pergi
meninggalkan tanah leluhurnya. Menurut Cambridge
commentary, memberikan persembahan sepersepuluh kepada Tuhan melalui para
Imam atau rumah Tuhan merupakan kebiasaan yang umum berlaku di zaman dahulu. Jejaknya
dapat ditemukan di area arkeologi di Assyria dan Babilonia. Kebiasaan itu juga
ada di masyarakat Yunani kuno.
Pemberian persepuluhan
kepada Melkisedek imam Allah itu kemudian menjadi model pemberian persepuluhan
bangsa Israel, yaitu diberikan kepada para imam
Allah dari suku Lewi.
Perpuluhan adalah
peraturan Hukum Taurat di mana setiap orang Israel wajib memberi persembahan 10% dari segala yang mereka peroleh untuk
Tabernakel/Bait Allah. Pada awalnya persembahan itu adalah sepuluh persen dari
hasil panen dan ternak, sebab itulah disebut persepuluhan. Namun dalam
perkembangannya, dapat digantikan dengan uang. (Imamat 27:30; Bilangan 18:26; Ulangan 14:24-25;
2 Tawarikh 31:5; Maleakhi 3:10).
![]() |
foto st-takla.org |
Oleh karena
merupakan bagian dari Hukum Taurat, maka memberi persembahan perpuluhan kepada Tuhan
(Bait Allah) merupakan kewajiban/keharusan bagi orang Israel yang hidupnya
memang diatur oleh hukum Taurat. Apalagi ada ancaman kutukan apabila orang
Israel tidak mentaati perjanjian mereka dengan Tuhan (Ulangan 28:15-68).
Perpuluhan juga
disebut sebagai milik Tuhan (Imamat 27:30). Untuk apakah perpuluhan tersebut?
Ketika diteliti dengan baik, dapat diketahui bahwa persembahan perpuluhan orang
Israel tersebut bertujuan untuk “pemeliharaan” rumah Tuhan (Bait Allah) dan
untuk mencukupi kehidupan suku Lewi yang melayani di Bait Allah - Suku ini
dikhususkan untuk melayani Tuhan dan tidak diperbolehkan bekerja - (BIlangan
18:21; Maleakhi 3:10).
Apakah implikasi
dari pemberian perpuluhan bagi orang Israel? Tuhan menyatakan dengan jelas
bahwa Dia akan “…membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan
berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya
hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu,
firman TUHAN semesta alam. Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia,
sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam.”
(Maleakhi 3:10-12).
Analisa Perjanjian
Baru
Bagaimanakah
dengan pengajaran Perjanjian Baru? Perjanjian Baru tidak mengatur secara khusus
bahwa orang percaya (pengikut Kristus) harus melaksanakan persembahan
perpuluhan. Mengapa? Karena Perjanjian Baru tidak lagi bersifat legal formal
(yaitu berdasarkan hukum Taurat). Yesus Kristus telah menggenapi tuntutan
Taurat (Matius 5:17). Artinya taurat tidak lagi merupakan suatu tuntutan atau
kewajiban bagi para pengikut Kristus atau gereja Perjanjian Baru.
Hukum tauratpun telah
berakhir masa wajibnya bagi para pengikut Kristus, sebab Alkitab dengan tegas
menulis pernyataan Yesus mengenai masa berlaku hukum taurat, demikian: ‘’Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku
sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah
diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya.” (Lukas 16:16).
Orang percaya
sebaliknya diajar untuk memberi
dengan motif kasih. Rasul Paulus
menyatakan bahwa orang-orang percaya sepatutnya menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka untuk mendukung gereja
di Yerusalem (1 Korintus 16:1-2).
Seberapa
banyakkah? Perjanjian Baru tidak menentukan persentase penghasilan yang harus
disisihkan, tetapi hanya mengatakan, “sesuai
dengan apa yang kamu peroleh” (1 Korintus 16:2). Banyak gereja yang kemudian
mengambil angka 10% dari peraturan perpuluhan hukum Taurat di Perjanjian Lama
dan menerapkannya sebagai “rekomendasi”
untuk orang Kristen dalam memberi persembahan.
Bagaimanakah
gereja masa Perjanjian Baru memberi persembahan? Kitab Kisah Para Rasul
mencatat demikian,”Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu,
dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari
mereka yang menjual harta miliknya,
lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan
masing-masing” (KPR 2:44-45).
![]() |
foto gracetruthradio.wordpress.com |
Oleh karena
berdasarkan kasih dan kerelaan, maka memberi
persembahan tidak terlepas dari keseluruhan iman seseorang kepada Tuhan. Tuhan
Yesus pernah menegur ahli-ahli Taurat dan orang Farisi karena mereka “memberi”
perpuluhan namun kehidupannya jauh dari keadilan, belas kasih dan kesetiaan
(Matius 23:23).
Tuhan menghendaki
agar keseluruhan hidup kita menyenangkan hati-Nya. Hal itu berbicara mengenai
mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi (Matius 22:37). Orang
yang mengasihi Tuhan pasti akan mencintai-Nya dalam segenap aspek hidup. Bukan
saja dalam memberi persembahan, tetapi juga mempersembahkan hidup yang kudus
dan berkenan kepada-Nya (Roma 12:1).
Apakah janji
Allah berkaitan dengan persembahan dalam Perjanjian Baru? Firman Tuhan menjelaskan, “Camkanlah ini: Orang yang
menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan
menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan
hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi
orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih
karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan
di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.”
(2 Korintus 9:6-8).
Makna persembahan
perpuluhan mengalami perubahan sesuai dengan pengajaran Alkitab. Perjanjian
Lama mewajibkan orang Israel untuk memberi sepersepuluh dari penghasilan mereka
kepada rumah Tuhan, Bait Allah sebagai bagian dari peraturan hukum Taurat.
Memasuki masa
Perjanjian Baru, Yesus telah mengenapi hukum Taurat. Hukum Taurat tidak lagi
menjadi peraturan wajib bagi orang percaya (gereja Perjanjian Baru), karena
telah digantikan oleh hukum kasih (Lukas 16:16; Matius 22:37-39). Dengan demikian segala aturan yang bersifat
wajib itu tidak dapat diterapkan kepada gereja Perjanjian Baru. Sebab gereja
Perjanjian Baru atau orang-orang yang percaya kepada Yesus tidak lagi berada
dibawah hukum taurat, melainkan dibawah kasih karunia Kristus (Roma 6:14).
Namun gereja
Perjanjian Baru tetap diminta untuk memberikan korban persembahan kepada Tuhan.
Motifnya bukan lagi kewajiban dengan ancaman kutukan apabila tidak
melaksanakan, namun dengan motif mengasihi Tuhan dan kerelaan.
Pemberian jemaat
Perjanjian Baru digunakan untuk menopang pelayanan gereja di Yerusalem dan juga
kesejahteraan kaum miskin, anak yatim dan para janda (KPR 6:1-6).
Refleksi iman
Dengan adanya hukum
kasih yang diajarkan Yesus, maka segala tindakan orang percaya dilandasi oleh kasih dan kerelaan kepada Tuhan. Dan sebagai
orang percaya, yakinlah bahwa Tuhan mencukupkan semua kebutuhan hidup serta menjamin
masa depan kita. Oleh karenanya, tidak perlu kuatir atau menjadi pelit dalam
hidup ini.

Persembahan
adalah juga tanda iman kepada pemeliharaan Allah, sang Jehova Jireh. tidak akan membuat kita jatuh miskin.
Oleh karena itu, kita memberi persembahan tidak hanya di masa kelimpahan tetapi juga di masa kekurangan (Filipi 4:17-19, 2 Korintus 9:8). Dengan memberikan persembahan, termasuk persepuluhan, bahkan di saat kekurangan, kita sebenarnya mau melatih diri tetap beriman kepada Tuhan. Yaitu dengan memberikan sepersepuluh dari penghasilan atau dua puluh persen dan sebagainya tergantung kerelaan hati.
Oleh karena itu, kita memberi persembahan tidak hanya di masa kelimpahan tetapi juga di masa kekurangan (Filipi 4:17-19, 2 Korintus 9:8). Dengan memberikan persembahan, termasuk persepuluhan, bahkan di saat kekurangan, kita sebenarnya mau melatih diri tetap beriman kepada Tuhan. Yaitu dengan memberikan sepersepuluh dari penghasilan atau dua puluh persen dan sebagainya tergantung kerelaan hati.
Seandainya karena
satu alasan atau lain hal “gagal” memberikan persembahan kepada Tuhan, tidak perlu
merasa berdosa, merasa tidak layak serta merasa akan masuk neraka. Justru harus bangkit untuk berkomitmen mengasihi Tuhan dengan segenap hidup dan mulai kembali membawa
persembahan ke rumah Tuhan bagi kemuliaan nama-Nya.
Ada begitu banyak
kesaksian anak-anak Tuhan yang mengalami “perubahan” dalam kehidupannya, diberkati, mengalami pertolongan dan promosi dari Tuhan dalam karir dan bisnisnya setelah
mereka mulai setia memberikan persembahan ke rumah Tuhan. Alangkah indah bila
orang percaya memberi bukan karena peraturan dan rasa takut akan kutukan, tetapi karena kasih-Nya
kepada Tuhan.
Ingatlah kalau
orang Israel yang hidup dibawah peraturan
Taurat saja dapat memberikan 10% dari miliknya kepada Tuhan, apalagi orang percaya
yang mengaku mengasihi Tuhan Yesus Kristus. Pasti akan
mampu dan dengan sukacita memberi yang lebih lagi kepada Tuhan.
Saya percaya, 10%
seharusnya adalah jumlah minimal dari penghasilan yang kita persembahkan kepada Tuhan. Bukankah Dia
senantiasa memberkati karir, bisnis, studi, kesehatan, pelayanan dan rumah
tangga kita semua. Jangan lupakan perkataan Tuhan Yesus bahwa terlebih bahagia
memberi daripada menerima (KPR 20:35).
Setiap pemberian persembahan untuk kemuliaan nama-Nya, baik itu persembahan syukur, persembahan perpuluhan dsb tidak akan pernah sia-sia. Sebab setiap taburan akan menghasilkan tuaian. Tuhan Yesus mengatakan, "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38). Berilah yang terbaik kepada Tuhan.
Setiap pemberian persembahan untuk kemuliaan nama-Nya, baik itu persembahan syukur, persembahan perpuluhan dsb tidak akan pernah sia-sia. Sebab setiap taburan akan menghasilkan tuaian. Tuhan Yesus mengatakan, "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38). Berilah yang terbaik kepada Tuhan.
![]() |
foto aobcogic.net |
Rasul Paulus mengatakan “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor 9:7)
BalasHapusRasul Paulus tidak mengatakan sepuluh persen, namun menekankan kerelaan hati dan sukacita.
Yesus mengatakan “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23)
Yesus menekankan akan hakikat dari pemberian iaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Yesus tidak menekankan akan persepuluhan, namun apa yang menjadi dasar perpuluhan.
Dari dua dasar di atas, maka Gereja tidak perlu mendefinisikan seberapa besar sumbangan yang harus diberikan, namun lebih kepada pemberian sesuai dengan kemampuan dan juga dengan kerelaan hati dan sukacita. Namun itu tidak berarti bahwa bagi yang mampu untuk memberikan lebih dari sepuluh persen kemudian hanya memberikan bagian yang sedikit. Bagi yang mampu, seharusnya bukan hanya sepuluh persen, namun malah lebih pada itu, jika diperlukan. Bagi kaum miskin yang memang tidak mampu untuk memberikan sepuluh persen, mereka dapat memberikan sesuai dengan kemampuan mereka. Persembahan juga tidak hanya berupa uang, namun juga bakat dan waktu. Yang terpenting, semua persembahan harus dilakukan berdasarkan kasih kita kepada Tuhan sehingga kita dapat mengasihi sesama dengan lebih baik.